Thebatterysdown.com – Kebiasaan melewatkan sarapan dapat meningkatkan risiko prediabetes, menurut sejumlah penelitian. Praktik ini sering diadopsi oleh mereka yang mengikuti diet intermittent fasting, yang bertujuan untuk mengurangi asupan kalori. Namun, efek jangka panjang dari kebiasaan ini dapat berdampak negatif terhadap metabolisme gula darah.
Dr. Adam Prabata, seorang dokter dan edukator kesehatan, menyampaikan pandangannya mengenai hal ini melalui akun media sosialnya. Ia menegaskan bahwa meskipun melewati sarapan mungkin terlihat efektif untuk menurunkan berat badan, metode ini tidak cocok untuk semua individu. “Skip breakfast TIDAK UNTUK SEMUA ORANG,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Dari sejumlah studi yang ada, Dr. Adam mencatat adanya kaitan antara kebiasaan tidak sarapan dan meningkatnya risiko gangguan metabolisme gula. Misalnya, sebuah penelitian yang dilakukan di Korea Selatan melibatkan sekitar 12.000 responden, menunjukkan bahwa mereka yang teratur tidak sarapan lebih berisiko mengalami masalah ketidakseimbangan gula darah.
Melewatkan sarapan dapat menyebabkan penurunan kadar energi dan konsentrasi di siang hari. Selain itu, kebiasaan ini dapat berdampak pada pola makan selanjutnya, yang berpotensi menyebabkan overeating atau pilihan makanan yang kurang sehat.
Dokter Adam menyarankan agar setiap individu memperhatikan kebutuhan tubuh masing-masing dan kemungkinan efek dari kebiasaan makan yang dipilih. Ketersediaan informasi yang akurat juga diperlukan agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat terkait diet mereka, demi menjaga kesehatan jangka panjang.
![Sarapan Terlewat Tingkatkan Risiko Prediabetes Menurut Studi | thebatterysdown [original_title]](https://thebatterysdown.com/wp-content/uploads/2026/06/sarapan-U6zJ_large.jpg)