Thebatterysdown.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat setelah Presiden AS, Donald Trump, mengeluarkan ancaman untuk menghancurkan pembangkit listrik di Iran. Ancaman ini dilontarkan jika Iran tidak membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Penutupan Selat Hormuz yang dilakukan oleh Iran telah memicu reaksi keras dari Washington.
Dalam perkembangan lainnya, Iran melancarkan serangan ke wilayah selatan Israel, tepatnya di kota Dimona dan Arad. Serangan tersebut mengakibatkan puluhan orang terluka, dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut insiden ini sebagai “malam pertempuran yang sulit”. Dampak dari serangan ini terlihat jelas, di mana setidaknya 88 orang dilaporkan terluka dan sejumlah bangunan mengalami kerusakan parah.
Pemerintah Israel kemudian mengumumkan keadaan darurat setelah rudal Iran menghantam Arad. Insiden ini terjadi di tengah serangkaian serangan udara yang terus berlangsung di dalam wilayah Iran oleh pasukan AS dan Israel, mencakup kota-kota penting seperti Teheran dan Isfahan. Organisasi Energi Atom Iran mengonfirmasi bahwa fasilitas nuklir Natanz turut terkena dampak serangan.
Sementara itu, Arab Saudi mengambil langkah tegas dengan menyatakan bahwa beberapa staf kedutaan Iran, termasuk atase militer, ditetapkan sebagai persona non grata. Riyadh memberikan waktu 24 jam bagi mereka untuk meninggalkan negara tersebut, menandakan semakin meningkatnya ketegangan regional.
Situasi ini menunjukkan kompleksitas konflik yang melibatkan beberapa negara, dengan potensi eskalasi militer yang semakin mendekat jika langkah diplomatik gagal. Para pemimpin dunia kini mencermati perkembangan ini dengan seksama.
![Trump Ancaman Serang PLTN Iran, Israel Siaga Darurat | thebatterysdown [original_title]](https://thebatterysdown.com/wp-content/uploads/2026/03/trump-ancam-serang-pltn-iran-dalam-48-jam-israel-terapkan-status-darurat-bgr.jpg)