Danantara dan AS Bangun Komunikasi untuk Akses Mineral Kritis

[original_title]

Thebatterysdown.com – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara telah melakukan pembicaraan penting dengan pihak Amerika Serikat (AS) terkait akses terhadap mineral kritis. Pembahasan ini menjadi bagian dari negosiasi terkait tarif nol persen untuk berbagai komoditas sumber daya alam (SDA) Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pembicaraan mengenai mineral kritis telah berlangsung antara Danantara dan badan ekspor di AS. Selain itu, beberapa perusahaan asal AS juga telah menunjukkan minat berinvestasi langsung dengan perusahaan-perusahaan yang menjalankan usaha di sektor mineral kritis Indonesia. “Danantara berfungsi sebagai penghubung antara perusahaan Indonesia dan AS untuk memperkuat kerja sama di sektor ini,” ungkap Airlangga pada konferensi pers di Jakarta, Jumat lalu.

Kehadiran perusahaan AS dalam sektor mineral kritis di Indonesia bukanlah hal yang baru. Airlangga memberikan contoh bahwa perusahaan Freeport-McMoRan telah aktif menambang tembaga di Indonesia sejak tahun 1967. Selain tembaga, ada sejumlah mineral kritis lainnya seperti nikel, bauksit, serta logam tanah jarang (rare earth) yang juga menjadi perhatian AS.

Perusahaan-perusahaan multinasional, seperti PT Vale Indonesia Tbk, telah beroperasi di Indonesia sejak dekade 1970-an, terutama dalam pengolahan nikel. Sementara itu, untuk logam tanah jarang, Airlangga menjelaskan bahwa pengembangan masih dalam tahap awal dan merupakan produk sampingan dari timah.

Dengan adanya pembicaraan ini, diharapkan akses terhadap mineral kritis dapat semakin terbuka, yang akan membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia serta hubungan bilateral dengan AS.

Baca Juga  Trump Mengakui AS Berusaha Ambil Sumber Daya Venezuela

Post Comment

You May Have Missed