Tragedi DN Aidit: Eksekusi Militer Memicu Kesedihan Dalam Sejarah

[original_title]

Thebatterysdown.com – D.N. Aidit, pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berakhir tragis, dilahirkan pada 30 Juli 1923 di Belitung. Tumbuh dalam keluarga sederhana, Aidit mulai aktif dalam dunia politik sejak usia 13 tahun setelah pindah ke Jakarta. Ia memimpin PKI sejak 1951, dan di bawah kepemimpinannya, partai ini menjadi yang terbesar ketiga di Indonesia. Namun, kehidupan Aidit berujung kelam setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada 1965, di mana ia dituduh sebagai dalang utama.

Pada malam G30S, kekacauan politik meningkat, dan Aidit menjadi buronan. Pada 30 September 1965, ia meninggalkan rumahnya dan bersembunyi di Solo, Jawa Tengah. Penangkapannya terjadi pada 22 November 1965, saat tentara mengepung tempat persembunyiannya. Permintaannya untuk bertemu Presiden Soekarno ditolak, momen yang menjadi langkah terakhir sebelum eksekusi.

Keesokan harinya, Aidit dibawa ke Markas Batalion 444 di Boyolali. Selama interogasi, ia menyampaikan pidato membela PKI. Namun, Kolonel Yasir Hadibroto memutuskan untuk mengeksekusinya tanpa proses hukum. Pada 22 November 1965, Aidit ditembak di tepi sumur tua dan jenazahnya tidak pernah ditemukan, menambah misteri di balik kematiannya.

Eksekusi Aidit adalah bagian dari tindakan brutal pasca-G30S yang mengakibatkan ratusan ribu kematian. Meskipun dituduh sebagai biang kerok, bukti yang mengarah kepadanya tidak kuat. Kisah Aidit mengingatkan kita akan bahaya fanatisme politik dan pentingnya toleransi, serta mendorong refleksi mengenai sejarah kelam Indonesia yang tidak boleh diulang.

Baca Juga  Firsta Yufi Amarta Putri dari Jawa Timur Puteri Indonesia 2025

Post Comment

You May Have Missed