Perdagangan RI Terkendala Tantangan Tarif Trump

[original_title]

Thebatterysdown.com – Sepanjang tahun 2025, ketidakpastian ekonomi global terus berlanjut, didorong oleh dinamika geopolitik yang semakin kompleks. Konflik regional yang berlarut-larut dan kebijakan agresif dari negara-negara adidaya telah mengubah lanskap perdagangan dunia, dengan salah satu kebijakan yang paling disoroti adalah tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Amerika Serikat.

Pada 2 April 2025, Presiden Donald Trump meluncurkan kebijakan tarif resiprokal universal, yang ia sebut sebagai “America’s Liberation Day”. Kebijakan ini memberikan tarif dasar 10 persen untuk hampir semua barang impor, termasuk produk asal Indonesia, yang tarifnya meningkat hingga 32 persen. Langkah ini menjadi alarm bagi eksportir Indonesia, mengingat posisi pasar AS yang sangat strategis. Sebagai mitra dagang terbesar kedua Indonesia setelah China, pasar AS menyerap antara 9 hingga 11 persen dari total ekspor Indonesia dalam lima tahun terakhir.

Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa surplus perdagangan Indonesia dengan AS berada dalam rentang 14,4 hingga 19,3 miliar dolar AS hingga tahun 2024. Meskipun demikian, pemerintah AS menilai Indonesia memiliki hambatan masuk yang cukup signifikan terhadap produk asal Amerika, yang kemudian dijadikan dasar untuk mengenakan tarif balasan.

Setelah penurunan tarif menjadi 19 persen, risiko bagi dunia usaha Indonesia tetap ada. Hal ini menandai dimulainya proses perundingan yang panjang dan penuh tantangan untuk mencari solusi serta mencegah penurunan daya saing produk nasional di pasar AS. Diplomasi aktif dipandang krusial bagi Indonesia agar tidak hanya menjadi objek dalam tarik-menarik kepentingan negara adidaya.

Baca Juga  Bupati Ponorogo Terjaring OTT KPK Diduga Kasus Suap Jabatan

Post Comment

You May Have Missed