Persaingan Memanas antara MBS dan Sheikh Mohamed di Timur Tengah

[original_title]

Thebatterysdown.com – Persaingan tersembunyi antara Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed Bin Salman dan Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan menunjukkan kerumitan hubungan antara monarki-monarki di Teluk. Sejarah hubungan ini sering kali tidak sesuai dengan narasi yang menggambarkan persatuan, melainkan penuh dengan kepentingan yang saling bertentangan. Dalam konteks ini, ketegangan Saudi-Emirati mencakup sengketa wilayah dan upaya memperkuat pengaruh politik dan ekonomi di kawasan.

Krisis penentuan wilayah di masa lalu, seperti kejadian di Buraimi pada abad ke-20, mencerminkan persaingan ini, ketika Saudi berusaha memperkuat posisinya di oasis tersebut. Abu Dhabi dan Oman, yang merasa terancam, mengambil sikap tegas, dengan Inggris berperan aktif pada saat itu. Setelah pembentukan UEA, ketegangan ini tidak hilang, melainkan berpindah ke perjanjian dan kompromi yang sulit, seperti Perjanjian Jeddah 1974 yang justru menimbulkan perdebatan berkepanjangan terkait interpretasinya.

Saat ini, persaingan ini semakin terlihat dalam konteks ekonomi dan investasi. Putra Mahkota Mohammed Bin Salman dengan program “Visi 2030” berupaya mengalihkan fokus ekonomi Arab Saudi dari ketergantungan pada minyak. Hal ini berimplikasi pada perebutan posisi sebagai pusat bisnis utama di kawasan, di mana keputusan investasi dan proyek strategis menjadi titik tuntutan persaingan.

Menurut Murad Sadygzade, Presiden Pusat Studi Timur Tengah, persaingan ini sekarang tidak hanya bersifat geografis, tetapi juga menyangkut dinamika ekonomi dan kepemimpinan regional. Ketika pelbagai kepentingan saling bersaing, ketegangan politik dalam forum internasional dan strategi kebijakan luar negeri kedua negara dapat muncul kembali, terutama saat tantangan bersama muncul.

Baca Juga  Laskar Kie Raha Raih Kemenangan 2-1 atas Malut United di Super League

Post Comment

You May Have Missed